Kenapa Banyak Parfum Lokal Terasa Mirip? Dari Tren, Katalog Aroma, hingga Brief yang Kurang Jelas
- Klei Studio Academy

- 19 hours ago
- 3 min read
Fenomena yang Sering Disadari, Tapi Jarang Dibahas
Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah brand parfum lokal di Indonesia meningkat pesat. Dilansir dari dinamika industri beauty & lifestyle, kemudahan produksi dan akses ke bahan baku membuat banyak brand bisa meluncurkan parfum dengan relatif cepat.
Namun, seiring pasar semakin ramai, muncul satu komentar yang semakin sering terdengar dari konsumen:
“Parfumnya enak, tapi kok mirip yang lain?”
Fenomena ini tidak selalu berarti kualitas parfum buruk. Justru sebaliknya banyak parfum lokal dibuat dengan standar teknis yang baik. Masalahnya terletak pada arah aroma.

1. Tren Aroma Global yang Diserap Terlalu Mentah
Setiap tahun, tren aroma global memang memengaruhi pasar lokal. Aroma musky-clean, woody-amber, atau sweet gourmand misalnya, menjadi sangat populer dalam waktu tertentu.
Namun, ketika tren ini diadopsi tanpa interpretasi, banyak brand akhirnya bergerak di spektrum aroma yang sangat sempit. Hasilnya: parfum berbeda merek, tapi berada di “wilayah aroma” yang sama. Tren seharusnya menjadi referensi, dan harus di breakdown dengan DNA brand dan storytelling.
2. Parfum Lokal Terasa Mirip karena Ketergantungan pada Katalog Aroma Siap Pakai
Berdasarkan praktik umum di industri, banyak brand lokal memulai dengan memilih aroma dari katalog yang tersedia. Pendekatan ini wajar, terutama untuk brand yang ingin cepat masuk pasar.
Namun, katalog aroma dirancang untuk:
efisiensi
kemudahan produksi
kebutuhan mass market
harga yang terjangkau
brand owners mungkin kurang untuk research tentang bespoke fragrance.
Ketika banyak brand memilih titik awal yang sama, perbedaan aroma menjadi semakin tipis meski kemasan dan cerita brand berbeda.
3. Proses Produksi yang Terlalu Cepat
Kecepatan menjadi nilai utama dalam banyak peluncuran produk. Namun, dalam parfum, kecepatan sering mengorbankan fase penting: pengembangan aroma.
Tanpa waktu untuk:
menguji struktur aroma
membaca performa di kulit
mematangkan karakter
parfum cenderung “aman” dan sulit menonjol. Dan ini dikarenakan ruang jeda waktu untuk research secara mendalam.
4. Brief Aroma yang Kurang Terdefinisi
Salah satu penyebab paling krusial dan sering luput adalah brief aroma yang tidak jelas.
Brief seperti:
“clean tapi ada manisnya”
“mirip parfum A tapi beda”
“yang lagi tren”
"mau seperti brand niche A"
"mau aroma unik tapi murah"
memberi ruang interpretasi yang terlalu luas dan berakhir pada aroma yang generik.
Dalam praktik industri, aroma yang kuat hampir selalu lahir dari brief yang spesifik dan terarah. Maka dari itu, brand owners setidaknya harus mengerti struktur dan juga taksonomi dalam hal perfumery secara basic. Boleh dengan cara mengikuti kelas racik parfum beginner di Klei Studio Academy.
5. Fokus pada “Enak” Tanpa Memikirkan Identitas
Banyak brand berhenti pada satu pertanyaan: “Parfumnya enak atau tidak?”
Padahal, untuk keberlanjutan brand, pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah aroma ini bisa dikenali?
Apakah konsisten dengan identitas brand?
Apakah masih relevan dalam 2–3 tahun ke depan?
Tanpa pertanyaan ini, aroma mudah tergantikan baik oleh tren baru maupun brand lain.
Membaca Masalah Ini dari Perspektif yang Lebih Strategis
Fenomena “parfum terasa mirip” bukan masalah satu pihak. Ini adalah hasil dari:
tekanan tren
efisiensi produksi
dan kurangnya fase interpretasi aroma
Di sinilah peran pendekatan yang lebih strategis menjadi penting.
Sebagai Klei Studio Academy, KSA melihat bahwa banyak brand tidak membutuhkan lebih banyak pilihan aroma tetapi arah yang lebih jelas.
Dua Jalur yang Umum Digunakan Brand untuk Keluar dari Pola Ini
1. Bespoke Fragrance Development
Pendekatan ini memungkinkan brand:
mengembangkan aroma dengan karakter yang lebih spesifik
memulai dari skala kecil (misalnya 1 liter)
memisahkan fase aroma dari fase produksi
Tujuannya bukan sekadar berbeda, tetapi relevan dan konsisten.
2. Scent Business Club (SBC)
Untuk brand owner yang ingin memahami masalah ini dari sisi yang lebih luas secara tren, positioning, dan strategi, SBC menjadi ruang belajar dan diskusi yang lebih kontekstual. Banyak keputusan aroma yang keliru sebenarnya berakar dari keputusan bisnis yang belum matang.
3. Scent Personalized Business Coaching / Mentorship
Untuk kamu yang masih pemula dalam hal membangun bisnis terutama di bidang fragrance dan ingin mempunyai coach yang terstruktur dan secara step by step. Bisa menggunakan service Personalized Scent Coaching untuk meminimalisir kesalahan dalam bisnis sebelum brand-nya launching.
Penutup
Parfum lokal terasa mirip bukan karena kurangnya kreativitas, tetapi karena proses yang terlalu cepat dan arah yang belum jelas. Di pasar yang semakin padat, diferensiasi aroma tidak lagi datang dari mengikuti tren paling baru, melainkan dari kejelasan identitas dan kedalaman proses.
Artikel ini ditulis sebagai refleksi industri bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk membantu brand melihat peluang yang sering terlewat.
FAQ
Q: Kenapa parfum lokal banyak yang aromanya mirip? A: Umumnya karena pengaruh tren global, penggunaan katalog aroma, dan minimnya fase pengembangan aroma yang terarah.
Q: Apakah aroma mirip berarti kualitasnya buruk? A: Tidak. Banyak parfum dibuat dengan kualitas teknis yang baik, tetapi kurang diferensiasi karakter.
Q: Bagaimana cara brand membuat aroma yang lebih berbeda? A: Dengan memperjelas brief aroma, memisahkan fase pengembangan aroma dari produksi, dan memahami konteks bisnis serta tren.



Comments