top of page

Formula Parfum dari AI: Kenapa Belum Tentu Berhasil Saat Diracik?

AI membuat informasi tentang perfumery jauh lebih mudah diakses. Dalam beberapa detik, seseorang bisa meminta contoh formula dari brand tertentu, floral, woody, gourmand, bahkan meminta persentase bahan dan penjelasan mengenai fungsi setiap material. Formula parfum juga semakin mudah ditemukan lewat forum, video, database, atau berbagai sumber di internet.


Bagi orang yang baru belajar, ini tentu membantu. Masalahnya muncul ketika formula tersebut benar-benar ditimbang dan hasilnya ternyata jauh dari yang dibayangkan. Aroma bisa terasa terlalu tajam, kosong, berat, tidak menyatu, atau bahkan berbeda sama sekali dari deskripsi yang menyertainya.


Ini bukan berarti AI atau formula yang ditemukan di internet tidak berguna. Keduanya bisa menjadi referensi untuk belajar. Namun dalam perfumery, formula tertulis hanyalah satu bagian dari proses. Sebuah formula baru benar-benar bisa dinilai ketika materialnya dicium, diracik, didiamkan, dievaluasi, lalu dikoreksi.


Formulation with AI


Apakah AI Bisa Membuat Formula Parfum?

AI dapat membantu menyusun ide formula berdasarkan informasi mengenai karakter raw material, struktur parfum, keluarga aroma, atau hubungan bahan yang telah tersedia dalam data dan literatur. Namun membuat daftar bahan dan persentase tidak sama dengan mengevaluasi bagaimana formula tersebut benar-benar tercium.


Dalam formulasi parfum, angka 1% tidak selalu memiliki dampak aroma yang sama antara satu material dengan material lainnya. Bahkan perubahan yang terlihat sangat kecil pada formula bisa mengubah balance, diffusion, texture, atau drydown secara signifikan.


Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukan sekadar “apakah AI bisa membuat formula parfum?”, tetapi seberapa jauh formula tersebut dapat bekerja tanpa proses olfactory evaluation setelah diracik?


Formula yang Sama Bisa Menghasilkan Aroma yang Berbeda

Salah satu alasan formula dari AI atau internet tidak selalu bisa direplikasi dengan hasil yang sama adalah karena nama material pada formula belum menceritakan seluruh detail bahan yang digunakan.

Natural raw materials adalah contoh yang paling mudah. Patchouli essential oil dari dua supplier dapat memiliki profil aroma yang sedikit berbeda. Jasmine absolute dapat berbeda kualitas, origin, extraction profile, hingga karakter indolic atau green yang muncul. Bahkan material dengan nama perdagangan yang sama bisa memiliki spesifikasi tertentu tergantung produsennya.


Aroma chemicals biasanya lebih konsisten, tetapi perbedaan purity, manufacturer, grade, dilusi, atau penggunaan material alternatif tetap dapat memengaruhi hasil akhir.



Dilution Mengubah Cara Sebuah Material Bekerja

Setelah membahas dilusi dalam perfumery, hal ini menjadi semakin jelas. Material yang sama dapat menunjukkan karakter berbeda ketika dicium secara neat/pure, pada dilution 10%, 1%, atau ketika sudah masuk ke dalam sebuah accord.


Jika sebuah formula dari internet menggunakan material pada dilution tertentu tetapi orang yang meraciknya menggunakan material neat, hasil akhirnya tentu bisa berubah drastis. Sebaliknya, formula yang ditulis berdasarkan bahan neat juga tidak bisa langsung diterapkan menggunakan material yang sudah diencerkan tanpa menghitung ulang konsentrasinya.


Hal kecil seperti ini sering menjadi alasan mengapa sebuah formula yang terlihat benar di atas kertas ternyata terasa tidak seimbang ketika dibuat.


Persentase Tidak Menjelaskan Odor Strength

Kesalahan lain yang cukup umum adalah membaca formula hanya berdasarkan jumlah. Misalnya, sebuah bahan digunakan 10% dan bahan lain hanya 0,2%. Secara matematis, material pertama memang jauh lebih banyak. Secara olfactory, belum tentu ia menjadi yang paling dominan.


Karena beberapa raw materials memiliki odor strength yang sangat tinggi sehingga digunakan dalam jumlah sangat kecil. Material lain membutuhkan dosage lebih besar untuk memberikan body atau volume tanpa terasa terlalu dominan.


Ini sebabnya formula parfum tidak dapat dibaca seperti resep makanan biasa. Jumlah bukan satu-satunya informasi. Perfumer juga perlu memahami odor threshold, tenacity, volatility, diffusion, substantivity, dan bagaimana material tersebut berinteraksi dengan bahan di sekitarnya.


Semakin jauh seseorang belajar formulasi, semakin terlihat bahwa angka hanyalah salah satu lapisan dari sebuah formula.


Bahan Tidak Bekerja Sendiri di Dalam Formula

Sebuah material yang tercium indah ketika dicium sendiri belum tentu memberikan efek yang sama ketika dimasukkan ke dalam formula. Sebaliknya, material yang terasa kurang menarik ketika dicium sendiri justru bisa menjadi bagian penting dalam membangun struktur.


Interaksi antar bahan dapat menghasilkan efek yang sulit dibaca hanya dari deskripsi individualnya. Ada material yang memperbesar volume floral, ada yang membuat woody accord terasa lebih dry, ada yang menambah diffusion tanpa terasa sebagai note tertentu, dan ada pula bahan yang dalam dosis tertentu justru menutupi bagian lain.


Inilah alasan formula yang dari AI secara teori masih bisa menghasilkan parfum yang flat, muddy, terlalu dense, atau kehilangan arah. Formulation bukan sekadar memilih bahan yang aromanya cocok. Yang lebih sulit adalah mengatur hubungan antar bahan.


Formula Pertama Hampir Tidak Pernah Menjadi Formula Terakhir

Dalam proses formulasi profesional, formula pertama biasanya merupakan sebuah hypothesis. Perfumer memiliki ide tentang bagaimana material akan bekerja bersama, lalu ide tersebut di evaluasi setelah makerasi melalui smelling.


Setelah diracik, formula perlu dievaluasi dari opening, development, sampai drydown. Dari sana baru terlihat bagian mana yang terlalu dominan, terlalu tipis, terlalu cepat hilang, atau tidak bekerja seperti yang diperkirakan. Dan apakah ada gap aroma di antara formulasi. Bahkan ada raw material yang sebenarnya tidak perlu dimasukkan.


Proses inilah yang sulit digantikan hanya dengan formula tertulis. Dalam perfumery, correction adalah bagian dari formulation.


Kenapa Deskripsi Formula Bisa Terdengar Bagus tetapi Hasilnya Tidak?

Bahasa aroma memiliki keterbatasan. Kata seperti “creamy sandalwood”, “transparent floral”, “dark amber”, atau “fresh woody” dapat terdengar sangat jelas ketika dibaca, tetapi masing-masing orang bisa membayangkan profil yang berbeda.


AI juga bekerja melalui bahasa dan informasi yang tersedia. Jika kamu meminta “woody perfume yang sophisticated, dry tetapi tetap sensual”, hasil yang diberikan akan mencoba menerjemahkan deskripsi tersebut menjadi kombinasi material yang secara teori berkaitan dengan brief.


Masalahnya, brief yang bagus belum menjamin kombinasi bahan tersebut sudah memiliki balance yang tepat. Dalam praktik formulasi, perfumer terus menguji jarak antara apa yang ingin dibuat dan apa yang benar-benar tercium. Selama kedua hal tersebut belum bertemu, formula belum selesai.


Jadi, Apa Gunanya AI dalam Belajar Perfumery?

AI tetap dapat menjadi alat belajar yang sangat berguna jika digunakan pada tempatnya. Ia bisa membantu mencari terminology, memahami fungsi umum suatu material, membandingkan keluarga aroma, membuat daftar pertanyaan sebelum eksperimen, atau membantu mengorganisasi catatan.


Untuk brainstorming, AI bisa membantu akan tetapi penggunaan yang sehat adalah menjadikan AI sebagai reference atau thinking tool, bukan sebagai pengganti smelling.


Jika sebuah formula diberikan oleh AI, anggap formula tersebut sebagai titik awal untuk diuji. Racik dalam skala kecil, evaluasi hasilnya, catat perubahan dari waktu ke waktu, lalu koreksi berdasarkan apa yang benar-benar kamu cium. Hanya saja AI tidak bisa mencium dan memberikan koreksi jika hasil aroma tidak sesuai dengan ekspektasi.


Kenapa Belajar dengan Hidung Tetap Penting?

Salah satu perubahan terbesar ketika seseorang mulai belajar perfumery lebih serius adalah cara melihat formula. Pada tahap awal, perhatian biasanya masih tertuju pada resep: berapa persen Hedione, berapa banyak Iso E Super, material apa yang bisa membuat parfum lebih tahan lama.


Setelah jam terbang bertambah, fokusnya mulai berubah. Pertanyaannya bukan lagi hanya “berapa persen?”, tetapi “apa yang material ini lakukan di sini?”


Apakah ia masih diperlukan? Apakah efeknya terlalu besar? Apakah komposisinya kehilangan clarity? Apa yang terjadi kalau dosisnya diturunkan sedikit? Apa yang sebenarnya membuat drydown terasa berat? Pertanyaan seperti ini muncul dari evaluasi, bukan dari membaca formula.


Di Klei Studio Academy (KSA), formulasi dipelajari dengan pendekatan seperti ini. Peserta tidak hanya melihat bahan dan persentase, tetapi juga belajar mencium raw material, memahami perilakunya, membangun accord, mengevaluasi hasil, dan mengoreksi formula ketika hasilnya belum sesuai dengan tujuan awal.


Karena pada akhirnya, perfumery bukan kompetisi siapa yang memiliki formula paling banyak. Kemampuan yang lebih penting adalah mengetahui apa yang harus dilakukan ketika formula tersebut tidak bekerja.



AI Memberi Informasi. Correction Tetap Membutuhkan Evaluation.

Kemudahan mendapatkan informasi membuat belajar perfumery sekarang jauh lebih accessible dibanding sebelumnya. Itu hal yang positif. Formula, terminology, material knowledge, dan berbagai referensi bisa ditemukan dalam hitungan menit.


Tetapi akses terhadap informasi tidak otomatis sama dengan kemampuan formulasi. Dua orang dapat menggunakan formula yang sama dan menghasilkan evaluasi yang sangat berbeda. Yang satu mungkin hanya mengikuti resep, sementara yang lain bisa mengenali bahwa bagian floral terlalu dense, woody base terlalu dominant, atau transisi ke drydown terasa terputus.


Perbedaan tersebut bukan berasal dari siapa yang memiliki informasi lebih banyak, tetapi dari kemampuan membaca apa yang terjadi setelah formula dibuat. Dan kemampuan itu tumbuh dari smelling, comparison, repetition, correction, dan pengalaman.


Kesimpulan: Apakah Boleh Menggunakan Formula dari AI?

Formula dari AI atau internet bisa digunakan sebagai referensi, latihan, atau titik awal eksperimen. Namun jangan menganggap formula tersebut sebagai jawaban final hanya karena persentasenya terlihat benar.


Periksa material yang digunakan, dilution, supplier, dosage, serta tujuan setiap bahan. Setelah diracik, beri waktu pada formula untuk berkembang, evaluasi di blotter dan bila relevan di kulit, kemudian lakukan correction berdasarkan hasilnya.


AI dapat membantu kita menemukan informasi dengan sangat cepat. Tetapi dalam formulasi parfum, masih ada satu tahap yang tidak boleh dilewati: smell what you actually made. Dan ini bisa didapatkan dengan belajar perfumery dari institusi dan mentor yang tepat.


Klei Studio Academy (KSA) merupakan tempat untuk belajar parfum secara terstruktur dan terakreditasi oleh Asia Perfume Foundation (APF) yang akan dibimbing oleh Divanda Gitadesiani, perfumer berpengalaman selama 9 tahun yang merupakan lulusan dari The Art of Perfumery UK, Grasse, dan Perfumersworld Thailand. Selain mengajar, Divanda juga menerima bespoke perfumery untuk kebutuhan personal maupun bisnis dan kliennya sudah sampai Internasional. Jadi, jangan sungkan untuk bertanya kepada tim KSA mengenai kebutuhan belajar kamu.



The Art of Perfumery 101
IDR 799,000.00
Book Now

Intermediate Program (Level 1 - 3)
IDR 37,500,000.00
Book Now


FAQ

Apakah ChatGPT atau AI bisa membuat formula parfum?

AI dapat memberikan contoh atau ide formula berdasarkan informasi yang tersedia mengenai bahan dan struktur parfum. Namun hasil tersebut tetap perlu diuji, dicium, dan dikoreksi karena formula di atas kertas belum menunjukkan bagaimana komposisi akan benar-benar tercium.


Apakah aman menggunakan formula parfum dari internet?

Formula sebaiknya tidak langsung digunakan untuk produk komersial tanpa memahami material, dosage, safety restriction, dan kategori penggunaan. Untuk latihan, formula internet dapat digunakan sebagai referensi, tetapi tetap perlu mengecek spesifikasi bahan dan standar keselamatan yang relevan.


Kenapa formula parfum dari internet berbeda saat saya coba?

Perbedaan dapat terjadi karena supplier, kualitas raw material, dilution, purity, substitution material, metode penimbangan, hingga kondisi evaluasi. Natural ingredients khususnya dapat memiliki variasi profil dari batch atau sumber yang berbeda.


Apakah formula parfum harus selalu dimodifikasi?

Tidak ada aturan bahwa setiap formula harus diubah, tetapi proses evaluasi dan modification merupakan bagian normal dari formulasi. Bahkan formula yang sudah baik tetap perlu diuji untuk memastikan opening, development, drydown, balance, dan tujuan aromanya sesuai.


Apakah belajar formula parfum cukup dengan membaca resep?

Tidak. Formula dapat membantu memahami struktur, tetapi kemampuan formulasi juga membutuhkan latihan mencium raw material, memahami dosage, membangun accord, mengevaluasi komposisi, dan melakukan correction berdasarkan hasil yang benar-benar tercium.

 
 
 

Comments


bottom of page