Dilusi Parfum dalam Perfumery: Kenapa Material yang Sama Bisa Tercium Berbeda?
- Divanda Gitadesiani

- 2 hours ago
- 6 min read
Kalau lagi belajar raw materials, ada satu latihan yang sebenarnya simpel banget. Ambil satu material. Cium di 10%. Turunkan ke 1%. Lalu coba lagi di 0.1%. Reaksinya hampir selalu sama. Kening berkerut sedikit, lalu: "Eh… kok beda?" Padahal ya bahannya itu-itu juga.
Dan menurutku justru di situ raw material study mulai terasa menarik. Karena kita jadi sadar bahwa selama ini mungkin kita merasa sudah "kenal" satu bahan hanya karena pernah mencium sekali, dari satu botol, di satu konsentrasi.

Apa itu dilusi parfum dalam perfumery?
Dilusi adalah mengencerkan bahan baku aromatik ke persentase tertentu dengan pelarut netral, supaya bahan itu bisa dicium, dinilai, dan diformulasikan secara akurat. Tanpa dilusi, banyak material terlalu pekat untuk dibaca hidung yang tertangkap cuma impact-nya, bukan karakternya.
Tiga level yang paling sering aku pakai di bench:
10% — dilusi kerja standar untuk mayoritas material.
1% — untuk bahan berkarakter kuat, misalnya kebanyakan bahan dari phenols atau indolic.
0.1% — untuk bahan ultra-potent seperti animalic, dan sebagian besar green note pekat.
Dilusi bukan cara "melemahkan" bahan. Dilusi itu cara mengecilkan volume supaya kita bisa benar-benar mencium aromanya seperti apa jika sudah terformulasi.
Kenapa bahan yang sama tercium berbeda di konsentrasi berbeda?
Aku suka mengibaratkannya seperti ketemu seseorang cuma sekali, di acara networking session.
Kita pulang lalu bilang, "Oh, dia orangnya quiet." Padahal mungkin dia cuma lagi capek. Ketemu lagi di setting berbeda, bareng teman-teman dekatnya, ternyata dia yang paling berisik. Same person. Different setting.
Raw material juga begitu. Di konsentrasi tinggi, satu karakter dominan sering menelan semua sisi lain. Begitu diencerkan, karakternya bisa berubah dan ada bagian lain yang akhirnya muncul. Lebih soft. Lebih floral. Lebih dry. Kadang ada facet aneh kecil yang sebelumnya nggak kepikiran sama sekali.
Contoh paling ekstrem yang selalu aku pakai di kelas: indole dan phenols.
Cium indole di 100% dan sebagian besar orang akan menjauh dari blotter. Ada nuansa kotor, ada sesuatu yang berat, hampir tidak enak. Turunkan ke 10% dan bahan yang sama tiba-tiba terasa seperti aroma memikat dari melati yang baru dipetik rasanya hangat, hidup, sedikit "kotor" yang membuat karakter white floral jadi lebih natural dan hidup.
Tiga bahan Indonesia yang berubah karakter saat diencerkan
Nilam (Patchouli Indonesia). Di konsentrasi pekat, nilam sering terbaca camphoraceous, berdebu, sedikit medicinal — dan inilah alasan banyak orang bilang "nggak suka patchouli" padahal belum pernah menciumnya di dosis kerja. Di 10% ke bawah, sisi lain keluar: manis, woody, ada facet kakao dan sesuatu yang mirip anggur tua. Tapi kalau aku pribadi, suka menunggu minyak nilam untuk "aging" beberapa tahun agar aroma manis dan woody-nya keluar secara alami tanpa harus di dilusi.
Vetiver Jawa. Pekat terasa earthy, smoky, nutty, kadang agak keras. But, I love it! JIka diencerkan, ada facet kering dan hampir grapefruit-like yang muncul di atas dan facet itulah yang biasanya kita cari waktu membangun struktur maskulin yang fresh and dry woody, bukan yang berat.
Benzoin Sumatera. Ini house constant-ku, jadi aku mungkin bias. Pekat, dia balsamic dan berat sampai hampir menutup semuanya. Diencerkan, dia jadi vanillic, powdery, sedikit cinnamic. Catatan teknis: benzoin resinoid tidak larut baik di DPG, jadi untuk dilusi biasanya perlu etanol atau benzyl benzoate.
Kalau kamu belajar perfumery di Indonesia dan bahan-bahan ini justru yang paling gampang kamu akses, sayang sekali kalau referensi olfaktorimu dibangun sepenuhnya dari deskripsi orang lain tentang bahan yang mereka impor.
Cara membuat dilusi 10%, 1%, dan 0.1%
Selalu berbasis berat, bukan volume. Bisa menggunakan timbangan 0.001 g agar lebih presisi.
Buat 10%. Timbang 1 g material + 9 g DPG. Aduk sampai benar-benar homogen.
Buat 1%. Ambil 1 g dari dilusi 10% tadi, tambahkan 9 g DPG.
Buat 0.1%. Ambil 1 g dari dilusi 1%, tambahkan 9 g DPG.
Beri label lengkap: nama material, persentase, pelarut, tanggal. Tanpa tanggal, kamu tidak bisa membaca perubahan bahan seiring waktu.
Celup blotter sekitar 5 mm saja, tulis labelnya di ujung yang lain, dan jangan dikibas-kibaskan.
Satu catatan yang sering terlewat: pelarut ikut mengubah pembacaan. DPG tidak menguap, jadi dia menahan bahan lebih lama di blotter dan cenderung membuat top terasa lebih tumpul. Etanol menguap, jadi lebih mendekati perilaku bahan di fine fragrance sungguhan.
"Baunya apa" dan "gunanya apa" itu dua hal yang berbeda
Pada akhirnya kita tidak memakai raw material sendirian. Kita taruh raw material tersebut bersama 10, 20, mungkin 30 bahan lain. Bahan yang di blotter terasa woody banget, di dalam formula belum tentu hadir sebagai "woody note". Mungkin hanya memberi dryness / volume / bikin floral di atasnya terasa lebih airy.
Kadang kamu bahkan tidak benar-benar mencium bahan itu, tapi begitu dihilangkan, formulanya terasa kosong atau terasa ada gap. Hedione adalah contoh klasik: di banyak formula, dipakai dalam dosis besar dan tetap tidak terbaca sebagai "aroma". Yang diberikan adalah radiance dan transparansi.
Makanya waktu students bilang, "Ini baunya woody," biasanya aku akan lanjut tanya: "Okay. But what is it doing?" Karena kita bisa tahu what something smells like tanpa tahu how to use it. Dua kemampuan yang berbeda, dan yang kedua jauh lebih lama dibangun.
Kenapa "tambah bahan" sering bukan jawabannya
Ini salah satu fase yang paling bikin frustrasi waktu belajar perfumery: semakin banyak raw materials yang kita punya, bukannya makin gampang. Kadang malah makin bingung. Formula terasa kurang diffusive, tambah satu bahan. Sekarang terlalu sharp. Tambah lagi sesuatu supaya lebih soft. Eh, jadi terlalu heavy. Tambah lagi untuk kasih contrast. Lama-lama kita bukan lagi memperbaiki formula. Kita memperbaiki koreksi dari koreksi sebelumnya.
Aku pernah menghabiskan enam versi berturut-turut menambah material ke satu bespoke brief yang terasa "berat", sampai akhirnya jadi membuang-buang bahan raw material.
Makanya ada saatnya pertanyaan "What should I add?" perlu berhenti dulu, dan diganti:
"What is already doing too much?" dan pertanyaan berubah seketika, "What should I remove?"
Vocabulary yang kamu butuhkan setelah descriptor
Woody. Floral. Musky. Green. Kata-kata ini membantu, tentu. Tapi setelah beberapa lama belajar, kita mulai butuh kosakata lain yang menjelaskan fungsi, bukan rupa:
Diffusive — seberapa jauh dia menyebar
Substantive — seberapa lama dia bertahan
Dry / Transparent / Textural — kualitas permukaannya
Supporting / Dominant — perannya dalam struktur
Atau sesederhana: "bahan ini makan terlalu banyak ruang."
Di situlah menurutku seseorang mulai bergerak dari sekadar smelling raw materials menuju formulation thinking. Bukan karena tiba-tiba hafal ratusan bahan tapi justru karena mulai lebih hati-hati memilih. Which one. How much. And why.
Jika kamu tertarik untuk belajar lebih dalam lagi, bisa mengikuti kelas KSA x APF Intermediate Perfumery Class. Baca selengkapnya di: Apa yang Dipelajari di Program Intermediate Perfumery KSA x APF?
Latihan dilusi yang bisa kamu mulai minggu ini
Pilih satu material. Satu saja.
Buat dilusi 10%, 1%, dan 0.1% dengan pelarut yang sama.
Cium ketiganya berurutan. Jangan buru-buru cari descriptor.
Tulis: apa yang paling terasa di dosis tinggi? Apa yang muncul setelah diturunkan? Ada bagian yang hilang? Ada bagian yang baru muncul?
Cium blotter yang sama 30 menit kemudian. Beberapa jam kemudian. Besok pagi.
Di level tertentu, satu material bisa jadi main character. Turunkan sedikit, dia jadi support. Turunkan lagi, dia hampir tidak kelihatan, tapi entah kenapa seluruh formula terasa berbeda.
FAQ
Berapa persen dilusi standar untuk bahan baku parfum? 10% adalah dilusi kerja standar untuk mayoritas material. Bahan berkarakter kuat biasanya di 1%, dan bahan ultra-potent seperti indole atau animalic di 0.1% atau lebih rendah.
Pelarut apa yang dipakai untuk dilusi parfum? DPG (dipropylene glycol) paling umum karena netral dan tidak menguap. Etanol dipakai kalau kita ingin membaca perilaku bahan mendekati fine fragrance. Benzyl benzoate dipakai untuk material yang sulit larut di DPG, termasuk sebagian resinoid.
Kenapa bahan parfum baunya berubah setelah diencerkan? Karena setiap molekul dalam satu material punya ambang deteksi yang berbeda. Di dosis tinggi, molekul paling dominan menutupi yang lain. Saat konsentrasi turun, dominasi itu berkurang dan facet lain jadi terdengar.
Apakah perlu hafal ratusan raw material untuk jadi perfumer? Perlu tapi tidak wajib. Yang lebih berguna adalah kemampuan membandingkan. Dua bahan sama-sama woody mana yang lebih dry, mana yang lebih diffusive, mana yang cocok kalau formula sudah terlalu dense. Dan yang paling penting: apakah kamu benar-benar membutuhkannya di formula itu.
Berapa lama satu dilusi bisa disimpan? Simpan di botol kaca gelap, tertutup rapat, jauh dari panas dan cahaya. Dilusi dalam DPG umumnya stabil cukup lama, tapi tetap beri tanggal dan cium ulang secara berkala terutama untuk citrus dan material yang mudah teroksidasi.
Jawaban singkatnya: Dilusi adalah proses mengencerkan bahan baku parfum ke konsentrasi tertentu (umumnya 10%, 1%, atau 0.1%) menggunakan pelarut seperti DPG atau etanol. Material yang sama tercium berbeda di tiap konsentrasi karena setiap molekul punya ambang deteksi yang berbeda-beda. Di dosis tinggi, satu karakter dominan bisa menutupi karakter lain. Begitu diencerkan, facet yang tadinya tertutup mulai terdengar.
Belajar dilusi secara terstruktur
Latihan di atas bisa kamu mulai sendiri, dan aku menyarankan kamu mulai. Tapi kalau kamu ingin melakukannya dengan sistem, perbandingan langsung, dan koreksi dari the expert, itu yang kami bangun di program KSA x APF Intermediate Perfumery di Klei Studio Academy, satu-satunya institusi perfumery terakreditasi Asia Perfume Foundation di Indonesia.
Sepanjang program, students bekerja dengan 300+ raw materials. Tujuannya untuk membangun kemampuan membandingkan, dan tahu kapan sebuah bahan sebaiknya tidak dipakai sama sekali.
Karena makin lama aku belajar perfumery, makin terasa satu hal: perfumer yang baik bukan yang tahu cara memakai semuanya. Tapi yang tahu apa yang tidak perlu dipakai.
Dilusi cuma satu latihan kecil untuk mulai sampai ke sana. Tapi kadang justru latihan sekecil ini yang bikin kita jadi lebih aware dan efisien dalam membuat parfum.
Baca juga:
Tentang penulis
Divanda Gitadesiani adalah perfumer, educator, dan founder Klei Studio Academy (KSA), institusi perfumery dan satu-satunya di Indonesia yang terakreditasi Asia Perfume Foundation. Ia menyelesaikan pelatihan perfumery di Grasse, Prancis, serta di Formula Botanica, The Art of Perfumery (UK) dan PerfumersWorld (Thailand), dengan pengalaman lebih dari sembilan tahun di industri. Ia menyusun sendiri kurikulum APF Level 1–3 yang dijalankan di KSA, dan menulis di divandagitadesiani.com.



Comments