7 Kesalahan Terbesar Pebisnis Parfum Pemula dan Cara Menghindarinya
- Klei Studio Academy

- Jan 14
- 4 min read

Memulai Bisnis Parfum Itu Menyenangkan, Tapi Sering Terlalu Cepat
Banyak orang datang ke dunia parfum dengan rasa excited. Ada yang awalnya hobi, ada yang melihat peluang, ada juga yang ingin punya brand sendiri karena merasa parfum adalah medium ekspresi yang personal. Masalahnya, banyak yang melangkah terlalu cepat. Langsung produksi, langsung jual, langsung berharap hasil. Tapi pada realitanya, ternyata tidak semudah itu, bukan karena mereka salah seutuhnya, tapi karena tidak semua orang tahu apa saja yang seharusnya dipikirkan di awal.
Di Klei Studio Academy, kami sering bertemu founder parfum di berbagai tahap: ada yang baru mau mulai, ada yang sudah launching, ada juga yang sudah jalan tapi merasa “kok capek ya”. Dari situ, kami melihat pola yang sama. Kesalahan-kesalahan kecil yang sering dianggap sepele, tapi dampaknya besar kalau dibiarkan. Berikut artikel mengenai kesalahan bisnis parfum pemula yang bisa kamu hindarkan.
1. kesalahan bisnis parfum pemula yaitu memulai dari “Wangi yang Lagi Laku”
Ini salah satu hal paling sering terjadi. Banyak brand memulai dengan pertanyaan: “Sekarang orang lagi suka wangi apa?” Jawabannya bisa cepat. Tapi dampaknya jangka pendek.
Saat brand hanya mengikuti tren, biasanya akan muncul masalah seperti:
aromanya mirip banyak brand lain
sulit menjelaskan keunikan produk
bingung mau ke arah mana setelah launch pertama
Pada akhirnya, brand terasa seperti produk, bukan identitas. Yang sering terlupakan adalah: wangi bukan hanya soal disukai banyak orang, tapi soal apa yang ingin kamu wakili sebagai brand. Tren boleh jadi referensi, tapi bukan menjadi identity brand.
2. Langsung Produksi Tanpa Memahami Dasarnya
Kesalahan berikutnya sering muncul setelah launch.
Founder mulai bertanya:
“Kenapa parfumnya cepat hilang ya?”
“Kok batch kedua baunya agak beda?”
“Kenapa aromanya berubah di kulit orang lain?”
Masalahnya bukan selalu di bahan. Sering kali, founder memang belum memahami dasar seperti:
bagaimana top, heart, dan base bekerja
apa peran fixative
kenapa aroma bereaksi dengan kulit
bagaimana menilai struktur parfum
Tanpa pemahaman ini, founder sulit mengambil keputusan. Akhirnya hanya menebak-nebak atau menyalahkan vendor. Padahal, dasar perfumery justru membantu founder lebih tenang dan percaya diri.
3. Mengandalkan Maklon Sepenuhnya, Tanpa Arah yang Jelas
Maklon bukan pilihan yang salah. Tapi banyak founder masuk ke maklon tanpa benar-benar tahu apa yang mereka inginkan.
Akibatnya:
brief aroma kurang jelas
sulit menilai hasil akhir
tidak tahu apa yang harus direvisi
menerima formula tanpa memahami isinya
Parfum akhirnya terasa generik dan mudah tergantikan. Akhirnya pricing war strategy menjadi andalan founder brand.
4. Menentukan Harga Tanpa Perhitungan yang Sehat
Banyak brand parfum pemula ingin terlihat “terjangkau”. Niatnya baik, tapi sering berakhir menyulitkan diri sendiri. Beberapa masalah yang muncul:
margin terlalu tipis
tidak ada ruang untuk research and development maupun inovasi.
sulit menutup biaya produksi berikutnya
capek secara finansial tapi bisnis tidak bertumbuh
Harga bukan sekadar angka jual.Harga adalah strategi.
Dalam bisnis parfum, pricing harus mempertimbangkan:
bahan baku
kemasan
shrinkage
operasional
positioning brand
Terlalu Fokus ke Kemasan, Padahal Aromanya Belum Matang
Banyak brand parfum pemula terlihat sangat rapi dari luar. Botolnya cantik, desainnya estetik, fotonya profesional. Tapi begitu dicoba… aromanya belum solid.
Ini sering terjadi karena:
terlalu cepat memikirkan kemasan
budget habis di visual
aroma belum melalui proses evaluasi yang cukup
belum dites di kulit, waktu, dan kondisi berbeda
Padahal dalam bisnis parfum, aroma adalah produk utama, bukan kemasan.
Kemasan bisa menyusul. Aroma yang belum matang justru sulit diperbaiki setelah produksi besar.
6. Menganggap Operasional Bisa Dipikirkan Nanti
Di awal, banyak founder fokus pada kemasan dan marketing. Operasional dan aroma yang unik sering dianggap bisa menyusul. Padahal, bisnis parfum sangat bergantung pada hal-hal seperti:
aroma yang unik
konsistensi batch
penyimpanan bahan
perhitungan stok
alur produksi
kontrol kualitas sederhana
7. Tidak Punya Arah Jelas Setelah Launch Pertama
Banyak brand parfum berhenti bukan karena tidak laku,tetapi karena bingung harus ngapain setelah launching.
Setelah produk rilis, muncul pertanyaan:
mau lanjut varian atau tidak?
mau perbaiki aroma atau ganti konsep?
mau scale atau stay kecil?
feedback mana yang harus diikuti?
Tanpa roadmap, brand jadi reaktif: hari ini ikut tren, besok ganti konsep, lusa ganti kemasan.
Yang terjadi bukan pertumbuhan, tapi kelelahan.
Brand parfum butuh arah jangka menengah:
mau dikenal sebagai apa?
mau fokus di siapa?
mau main di niche mana?
Tanpa itu, brand mudah kehilangan identitas meskipun produknya bagus.
Penutup: Bisnis Parfum Tidak Harus Ribet, Tapi Perlu Arah
Tidak ada founder yang langsung sempurna. Kesalahan adalah bagian dari proses.
Yang penting adalah:
tahu apa yang perlu dipelajari
tahu kapan harus bertanya
dan tidak berjalan sendirian tanpa peta
Di Klei Studio Academy, kami percaya bahwa bisnis parfum bisa dibangun dengan cara yang lebih tenang, lebih sadar, dan lebih berkelanjutan. Bukan terburu-buru.T api bertumbuh dengan arah yang jelas.
Langkah Lanjut untuk Founder Parfum
Scent Business Club (SBC)
Untuk kamu yang ingin:
membangun brand dari fondasi yang benar
memahami wangi dari sisi bisnis
belajar pricing, positioning, dan arah brand
tidak mengulang kesalahan yang sama
Business Mentorship KSA
Untuk founder yang butuh:
arahan personal
diskusi strategi brand
atau re-direction bisnis
Pendekatannya praktis, relevan, dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Catatan dari KSA
Bisnis parfum bukan tentang siapa yang paling cepat. Tapi siapa yang paling paham ke mana ia berjalan.



Comments